[4 Dec 2009 | No Comment | ]

As with all expenses, air freight rates change all the time. This is because of the fact that many factors affect the pricing of various services and resources used in air freight. Learning about the different factors affecting the air freight rate could help you …

Read the full story »
Home » Headline, Other Categories, Travel Tourism

Owa (Javan Gibbon) Hewan Monogami yang Nyaris Punah

6 March 2009 One Comment

Bangsa kita sangat kaya, baik oleh kekayaan hayati, bahari hingga zoology. Kekayaan tersebut menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar di dunia. Namun sayangnya sebagian kekayaan yang dimiliki bangsa ini nyaris punah, salah satunya adalah Owa. Dari beberapa (sedikit) satwa yang memiliki sifat alamiah monogamy, Owa adalah satwa sejenis orang utan yang nyaris punah. Majalah Time edisi 24 januari 2000 menyatakan bahwa kera tak berekor bernama Owa nasibnya sangat gawat dan genting. Populasinya dinyatakan hanya tinggal 300-400 ekor.

Kawasan kaki Gunung Pangrango dan Taman Safari Indonesia merupakan habiatat asli Owa. Owa atau Javan Gibbon (dinamakan Javan Gibbon karena hanya terdapat di Jawa) tak memiliki ekor dengan tubuh langsing berbulu halus lebat kelabu keperakan pol-polan. Mukanya berkulit hitam pekat, macam topeng dikelilingi rambut kehitaman, seram namun kocak. Gerak akrobatik gelayutan makhluk di pohon tinggi mungkin tak tertandaingi makhluk lain di bumi ini. Tak salah jika Linnaeus, penelti satwa, menyebutnya dengan berjalan di pucuk pohon alias ?Hylobates Moloch?.

Habitat ideal Owa adalah hutan dengan ketinggian 600meter di atas permukaan laut. Sangat mungkin jika kini Owa hidup di hutan mendekati puncak gunung karena terdesak akibat kerusakan habitatnya oleh manusia. Owa dewasa memiliki tinggi tubuh 80 centimeter dan mampu hidup hingga umur 20 tahun.

Umumnya Owa hidup berkelompok dalam suatu keluarga batih atau keluarga ?luas?, yaitu induk, jantan dan bayi yang belum disapih, rata-rata berpopulasi antara 2 dan 4 ekor. Sosok, perilaku dan tata hidup kelompok Owa sungguh menarik. Kepiawaiannya bergelayut (branchiating) dari dahan ke dahan di pucuk pohon tinggi serta kemampuannya mengeluarkan bunyi dan suara hut-hut-huuoot atau calling membuat Owa makin menarik untuk dijadikan bahan kajian konservasi.

Sebagai masyarakat awam, tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk membantu melestarikan kekayaan zoology yang dimiliki bangsa ini. Namun setidaknya kita dapat melakukan hal sederhana dalam mendukung upaya pelestarian alam ini, misalnya dengan saling mengingatkan atau melakukan pengawasan dan melaporkan pada pihak terkait jika di sekitar kita ada pihak yang melakukan perburuan liar atau merusak hutan.

Posted In: Headline, Other Categories, Travel Tourism |

Tags:


One Response »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

CommentLuv Enabled

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar....